GAMBAR MASJID PENYENGAT DAN SEJARAHNYA
Pulau Penyengat atau
Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah, adalah sebuah
pulau kecil yang berjarak kurang lebih 2 km dari
Kota Tanjungpinang, pusat pemerintahan
Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari
Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari
Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal
pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.
[1]
Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di
Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang diantaranya adalah
Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional
Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Sejak tanggal
19 Oktober 1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke
UNESCO untuk dijadikan salah satu
Situs Warisan Dunia.
[2]
Menurut cerita, pulau mungil di muara
Sungai Riau,
Pulau Bintan ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil
air tawar
yang cukup banyak tersedia di pulau ini. Belum terdapat catatan
tertulis tentang asal mula nama pulau ini. Namun, dari cerita rakyat
setempat, nama ini berasal dari nama hewan sebangsa
serangga yang mempunyai
sengat. Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar
pantang-larang ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang ini yang kemudian dipanggil
Penyengat dan pulau tersebut dipanggil dengan
Pulau Penyengat. Sementara
orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama
Pulau Mars.
[3][1]
Tatkala pusat pemerintahan
Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah menjadi
Pulau Penyengat Inderasakti. Pada
1803, Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan
Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga sementara
Sultan berkediaman resmi di
Daik-Lingga. Pada tahun
1900,
Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat,
agama Islam dan
kebudayaan Melayu.
[3]
Imperium Melayu
Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya
Imperium Melayu, yang sebelum terdiri dari wilayah
Kesultanan Johor,
Pahang,
Siak dan
Lingga, khususnya di bagian selatan dari
Semenanjung Melayu. Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya
Kerajaan Riau di tahun
1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh
Belanda pada
1911.
[1]
Perang Saudara tahta Johor
Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan
Pulau Bintan,
Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun
1719 ketika meletus
perang saudara memperebutkan
tahta Kesultanan Johor antara keturunan
Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya
Raja Kecil melawan keturunan
Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin
Tengku Sulaiman.
[1]
Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh
Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (
Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (
Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang
bangsawan Bugis Luwu, yaitu
Daeng Perani,
Daeng Marewah,
Daeng Chelak,
Daeng Kemasi dan
Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada
4 Oktober 1722.
[1] Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke
Siak dan seterusnya mendirikan
Kesultanan Siak.